Archive | backpacking RSS for this section

A share of a lovely travel to Rajaampat

Been awhile since my last post on this blog. My mind was occupied with the PADI certification excitement. Yes, I just got my qualification in scuba diving. A first preparation to the plan that followed, an escape trip to paradise. Not really, the destination was actually Rajaampat, a hidden gemstone in the east of Indonesia. An array of islands to the west of Papua, in where we can see beauties both underwater and above its surface.

For your guideous information, we, 13 brave young men and women – marked our five days of lifetime floating on a sailing boat circa de chain of Rajaampat islands, where we witnessed originality in God’s pure creation. To be frank, it was not easy for urban minds like we are to spend the life of hipster even for a day. Luckily, the organizer, he who identified himself as “Deni Rajaampat” in #facebook was preparing everything to meet our standard of drooling – honestly we only knew 5S along the tour, it’s Sun Swim Sleep Supper and Shit :p

Rajaampat is one of “Kabupaten” in West Papua. It consists of hundreds of smaller islands that are surrounded by four main islands – Waigeo, Salawati, Batanta, and Misool. Formerly, Rajaampat, which means 4 Kings in local, was four kingdoms linked to Ternate Sultanate. Nowadays, Rajaampat area is well-known for its huge amount of biodiversity features – more than thousands of fish species and about 75% of all coral species in the world are living in its underwater.

About the trip itself, it took around 12 hours from Sorong to reach Rajaampat. As we set at 6 o’clock from the city, so we only got to the site in the evening. The real fun started on the second day. Four of us – Moja, Kanya, Dian, and myself decided to experience its underwater for one full tank of oxygen. It took around sixty minutes for us to consume the condensed air underwater (so shocked that the guides from Papua Diving only consumed less than half of what we took, hail Mr. Jacobus and his companion). So unlucky we didn’t meet Sharks, Manta rays, and turtles there 😦 (people from Papua Diving said it’s huge chance to say hello to those creatures mentioned earlier). At least we managed to see different schools of beautiful fishes and colorful corals – it’s literally like a flower garden over there.

Other than that, we spent our most memorable 5 days doing snorkel and eating fresh fish with Manado cook style (missed sambal Dabu-Dabu already) from sunrise to sunset, and playing Chap-Sa card game and rewinding the daytime story after that time.

Ah, not to forget, we also climbed the most beautiful hikings on day four. The first rock we climbed was an easy but long one. It took around an hour and half to reach the summit and coming back to boat. On the top, I saw the most beautiful scenery that these two eyes ever seen. How come that cones of islands seem floating above the surface of glass clear of sea water. It’s a clever God that put this kind of view hidden in the remotest area, so that only the most observing mind of us could experience this invaluable scenery.

And just like a good movie, it ends soon as we get to the climax. So as our five days itinerary. It reached the end before we’re fully satisfied. We wanted more. But, reality conquered us all and reminded that we got plenty things to do as we resume from the holiday leave. It ends too soon ;(

From now on, pending task is to present the photographs to the cloud 🙂

Lompat Kodok

Advertisements

le Me: Berburu Roshan

Here’s a photo of le Me, imagining as a Warcraft DotA hero, Jah’rakal just before fighting with the Roshan. I used to play DotA a lot during my college time and early work life as a freshy. I realized that this had taken much of my time, so I decided to quit. So, here’s a post to memorize those fun time with friends!

“Jah’rakal: Hunting Roshan”

The Troll Warlord is a pure fighter, able to attack from a distance or up close, where he becomes stronger overall and may also bash. He capitalizes on attack speed, being able to strike and move quickly, as well as enhance his allies to sometimes do the same. Jah’rakal can also Blind his opponents, making it difficult for them to land attacks. Additionally, successive attacks landed on a target enable greater focus for Jah’rakal, greatly increasing his attack speed. If he is able to acquire items and momentum soon enough, there aren’t many fighters who can best him.

nb: the picture of  le me is taken in Henderson Wave, Singapore.

Sebuah perjalanan singkat ke negeri di timur Jauh Jepang

Japan open its gate to the WestSekilas kembali ke masa lalu, ketika itu komodor Amerika Matthew Perry berlabuh di Edo (sekarang Tokyo) pada 31 Maret 1854 untuk menjalankan misi dari President US saat itu, Millard Fillmore. Tujuan utama dari misi tersebut ialah kurang lebih untuk membuka jalur perdagangan ke Jepang (yang saat itu sangat tertutup) dengan dunia barat.

Setelah menerima beberapa kali penolakan, akhirnya sang komodor menggunakan jalan intimidasi dengan membawa sejumlah kapang perang di bawah komando mothership USS Powhatan ke pelabuhan di Edo. Bangsa Jepang, karena saking tertutupnya saat itu baru menyadari adanya teknologi kapal perang besar tenaga uap yang dipersenjatai alat berat. Mereka menyebutnya dengan Kemuri o fukashi kyodaina ryū (煙を吹かし巨大な竜) atau Naga Raksasa beruap. Pada akhirnya bangsa Jepang dengan terpaksa memutuskan untuk membuka pintu mereka untuk bangsa Barat.

Lebih dari 150 tahun kemudian, saat ini bangsa Jepang adalah salah satu dari pemilik kapital dan produsen teknologi tinggi dunia. Mungkin mereka menyadari, bahwa penguasaan teknologi akan menjamin kemandirian dan keteguhan bangsa. Dengan menjadi bangsa yang “tidak tahu apa-apa”, akan banyak bangsa asing yang memaksakan ide dan kehendak mereka seenaknya.

Tepat 157 tahun, 1 bulan, dan 20 hari kemudian, saya bersama tiga orang teman lainnya memutuskan untuk menjalankan misi perjalanan untuk memperkaya pengalaman dan cara berpikir diri, sebuah wisata Backpacking ke kota Tokyo (Edo in 2011). Perjalanan dimulai dari 21-26 Mei 2011.

Banyak teman yang bilang kalau rencana kita saat ini adalah ide gila, mengingat beberapa minggu sebelumnya Jepang dilanda bencana Gempa dan Tsunami yang bahkan sampai menyebabkan kebocoran reaktor Nuklir di kota Fukushima. Sebagai informasi, jarak antara Tokyo – Fukushima dapat ditempuh hanya dengan 2 jam perjalanan kereta. Tapi, mengingat pemerintah Jepang mengatakan bahwa level radiasi di Tokyo masuk dalam ambang aman (di bawah 0.3 milliSievert http://en.wikipedia.org/wiki/Sievert), maka kami tetap melanjutkan rencana wisata ini :D.

Sakura Hostel AsakhusaUntuk akomodasi dua hari pertama, kami menginap di Sakura Hostel (http://www.sakura-hostel.co.jp/) wilayah Asakhusa temple. Ini adalah salah satu Hostel paling terkenal di kalangan backpackers Jepang. Kebetulan untuk mendorong pariwisat paska gempa, pemerintah Jepang memberikan subsidi untuk beberapa fasilitas tourisme, salah satunya hostel ini, sehingga kami hanya membayar 2000 yen per malam/orang (harga normal 3000 yen). Tempatnya lumayan nyaman, meskipun struktur bangunannya dibuat seadanya dengan wall block instant tanpa dilapisi cat. Setiap kamar berisi 4-6 ranjang tidur mode dua tingkat. Jika di total, setiap kamar ini bisa menghasilkan pemasukan 800K sampai 1200K yen bagi hostel (setara dengan 800rebu dan 1.2 juta rupiah). Jumlah yang cukup untuk membayar hotel bintang 5 di Jakarta ataupun Bali. Oh iya, kota Tokyo ini merupakan peringkat satu dalam daftar kota termahal untuk tourism http://goo.gl/i6NVL (sementara peringkat 2 setelah Angola dalam daftar kota termahal bagi expatriate). Sebagai gambaran, saya pernah membaca sebuah kolom artikel dari Singapore Airlines mengenai perbandingan tarif taksi dari bandara ke pusat kota untuk beberapa kota besar.

  • Di Jakarta, tarif taksi dari Bandara Sukarno-Hatta ke Sudirman kurang lebih sekitar Rp 150.000
  • Di Singapore, tarif taksi dari Changi ke Orchard kurang lebih sekitar SGD 25 (Rp 175.000)

Sementara di Tokyo, tarif dari Narita ke pusat kota (sekitaran wilayah Tokyo), kurang lebih 25.000 yen (Rp 2.500.000). Perampokaan!!

Untungnya transportasi masal di hampir semua wilayah Jepang, khususnya Tokyo, sangat bagus dan dapat dihandalkan (ketepatan waktu hingga skala detik). Juga sangat kompleks!! Terdapat sekitar 40 jalur kereta api yang melintasi Tokyo. semua jalur tersebut dikelola oleh 14 perusahaan operator kereta api.

shinkansen

Heyy, kami juga sempat menaiki bullet train Shinkansen(新幹線)!!! (kereta tercepat di dunia, max. speed s/d 320 km/jam http://en.wikipedia.org/wiki/Shinkansen)

Selama empat hari di kota Tokyo (1 hari di perjalanan pesawat bolak-balik Singapore-Tokyo-Singapore), kami sempat mengunjungi hanya beberapa dari attractions yang ada, diantaranya ialah: big lantern Kaminarimon (雷門) di Asakusa temple, Japanese Imperial Garden, Odawara Castle (小田原城), Hakone Hot Spring site dengan pemandangan Gunung Fuji, serta multi-vehicle tour (train, bus, Railway, Gondora Lift, dan Kapal laut) di Hakone.

Gondora Lift Hakone           Hakone Japan               Lake tour Hakone

Kemudian kami memutuskan untuk menikmati Japanese traditional Ryokan (hotel yang didesai rumah ala tradisional Jepang) di daerah Chidori-Cho, namanya Ryokan Kangetsu (http://goo.gl/HvPlw). Disini kami sangat menikmati kehidupan singkat ala Jepang: mandi di Onsen, tidur di tatami, makan malam di ruang tamu tradisional. Pokoknya bener-bener kayak di pelem Doraemon dah!! 😀

dinner ala Samurai

Selain jalan-jalan ala tradisional, kami juga sempat menikmati Jepang abad 21, wisata di kota modern nan sibuk. Diantaranya daerah Shibuya yang terkenal dengan si Anjing setia Hachiko, Harajuku tempat para maniak style, Akihabara tempat para otaku dan manga fans berkumpul, Tokyo Government Building tempat melihat Gunung Fuji dari gedung setinggal 45 lantai, dan Shinjuku tempat berkumpulnya para turis dari mancanegara.

Dua kata yang bisa menggambarkan wisata pertama ke Jepang kali ini, Sibuk dan Mahal. Yahh sibuk!! kami menikmati kota Tokyo ketika weekday, sehingga suasana di stasiun kereta dipenuhi dengan para pekerja berjas hitam yang terburu-buru berlari mengejar kereta. dan Mahal, untuk makan kebab di kedai pinggir jalan pun harus mengeluarkan uang 800 yen (80 rebu). Bahkan kami menyebut ini wisata mahal ketika dalam mode backpack, apalagi kalau wisata santai dan normal! 😀

Saya rasa ada filosofi dan tujuan yang kuat dari penerapan harga mahal ini. Bahkan mereka, bangsa Jepang, sangat terkenal dengan Politik Ekonomi dumping-nya, dimana harga jual export jauh lebih murah daripada harga jual di dalam negeri. Prinsip utama dumping ini adalah agar komoditas bisa bersaing pada pasaran internasional, dan bahkan menjadi pilihan utama jika harganya kelewat murah. Disini, Indonesia merupakan salah satu korban utama dari politik mereka ini. Motor, mobil, dan alat elektronik dari sana sampai sekarang membanjiri pasar lokal hingga menjadi sampah bagi tertibnya peradaban lokal (membuat polusi, macet, dan menjadi predator bagi berkembangnya usaha berbasis teknologi lokal).  Namun di luar itu, saya yakin bahwa pemerintah Jepang membuat harga dalam negeri lebih mahal agar rakyatnya tidak menjadi konsumtif dan boros. Juga misalnya harga taksi sangat mahal mungkin agar penduduknya tidak bermalas-malasan selalu naik taksi diantar sampai depan rumah, dan terutama untuk menjaga prinsip kedisiplinan ketika senantiasa mengejar jadwal kereta untuk tiba tepat waktu.

Akhirnya di hari kamis, 26 Mei 2011, kami harus mengakhiri perjalanan ke Jepang dan kembali bekerja.

Meskipun mahal, rasanya ini bukan perjalanan terakhir kita ke Tokyo. tapi mungkin saya hanya akan kembali ke Tokyo jika sudah menikmati beberapa kota lain sebagai destinasi backpacking selanjutnya. Paris, Berlin, Rio, Moskva, atau bahkan Teheran mungkin? 🙂

Gundam Human size    at Odawara castle

最後に!