Kata Tak Bertuan

“Kami warga Saritem mendukung Pembangunan PLTS Gede Bage”

Begitulah bunyi sebuah selembaran tembok yang setiap pagi kubaca sebelum tiba di ruang kuliah. Sebuah metafora yang mengkritik proyek pembangunan Pembangkit listrik tenaga sampah yang tidak layak secara AMDAL; menyatakan bahwa barang siapa yang mendukung pembangunannya, sama saja seperti komunitas warga lokalisasi yang dianggap terhina. Sepenggal kalimat dalam kertas kuning berukuran sekitar sepuluh sentimeter ini merupakan satu dari sekumpulan kata-kata tak bertuan yang terpampang pada sudut-sudut paling strategis dari kampus teknologi terbaik di negeri ini. Itulah buah karya dari individu-individu berotak brilian namun bermental lemah yang dihasilkan dari sistem pendidikan berbasis kompetensi di kampus ini.Sebuah pernyataan bernada kritik pedas yang dibuat dengan menggunakan berbagai teknik sastra yang pernah mereka pelajari; sarkasme, metafora, hiperbola, dan yang lainnya. Dari beragam pernyataan tersebut, terdapat sebuah persamaan yang cukup jelas, yakni mereka tak bertuan. Tuan-tuan mereka bersembunyi di kolong meja gambar, di balik papan keyboard, ataupun di belakang mesin bubut dari suatu laboratorium. 

Melihat kenyataan ini, aku selalu bertanya-tanya sendiri di dalam hati, mungkinkah ini sebuah mekanisme komunikasi di antara orang-orang jenius tersebut. Berharap agar aspirasinya yang kelewat tajam hanya dapat disintesis oleh orang-orang pintar disekitarnya. Dan, ketika ada orang bodoh nan oportunis membacanya, mereka kesulitan dalam menerka makna implisitnya. Sebuah metode yang secara efektif diterapkan dalam komunikasi dalam komunitas semut, juga organisasi rahasia ilmuwan eropa abad 18.Pesan-pesan yang dibungkus dengan sandi pengaburan makna,metafora. Selayaknya display hologram, yang hanya akan menunjukan wujud utamanya jika dilihat dari suatu sisi yang benar.

Namun, pada kenyataannya fenomena ini hanyalah sebuah skenario besar dari kepengecutan. Sebuah produk mental hasil tempaan dari suatu jaman yang pernah berkuasa selama tiga puluh dua tahun di negeri ini. Era dimana perbedaan pendapat dianggap sebagai tantangan kepada penguasa. Sehingga pelakunya akan diberi bingkisan kematian sebagai upah pemikirannya. Keadaan ini memaksa penulis yang kritis untuk pintar-pintar dalam menyembunyikan identitas, jika tidak ingin mengakhiri hidupnya dalam karung goni. Pun setelah era itu tumbang, kondisi demikian ini tidak pernah berubah. Selayaknya buah mangga yang semakin diperam semakin matang, mental pengecut seperti sudah terinstal di dalam urat nadi setiap insan di negeri ini. Berani berinisiasi namun enggan untuk mengemban tanggung jawabnya. 

Semenjak era reformasi, parade kepengecutan secara rutin terus dipertunjukan di negeri ini. Orang-orang berani dengan lantang menyuarakan isi kepalanya jika dibelakangi oleh massa yang kuat. Mereka membentuk aliansi seperti ada yang ingin meyerang balik, mengkoyak-koyak isi kepala, memperkosa keluarga, dan menindas komunitasnya. Selayaknya pendapat yang mereka utarakan adalah pasukan kamikaze Jepang yang memporak-porandakan pangkalan militer Amerika, dan mereka bersiap-siaga atas kemungkinan serangan balik yang dilancarkan dalam waktu dekat. Sebuah ketakutan yang tidak berdasar, sebuah ketakutan yang timbul karena perasaan takut itu sendiri.

Fenomena anonimitas ini juga membuat komunitas kehilangan akal sehatnya. Jalan pintas tersebut membuat mereka melupakan kemungkinan adaya solusi alternatif. Dibanding bermusyawarah untuk membentuk solusi yang konstruktif, mereka ini lebih tertarik untuk memenuhi ego-nya. Menganggap pendapatnya saja lah satu-satunya kebenaran; yang lain adalah kebodohan; musyawarah hanya akan merusak kebenaran dengan kegilaan. Atau mungkin juga mereka takut kalah dalam berargumen. Mereka menganggap bahwa anonimitas ialah solusi yang efektif, juga tanpa resiko. Oleh karenanya, inilah jalan yang mereka tempuh.

Anonimitas juga merupakan sebuah media pembelajaran yang sangat baik dalam berpikir pendek dan menumpulkan empati. Pelakunya dilatih untuk melupakan konsekuensi sosial yang bisa timbul dari suatu pernyataan. Mereka tidak perlu takut nama baiknya tercemar karena tulisannya, karena memang tidak ada yang tahu. Berkebalikan dari pujangga-pujangga masa lalu yang mengandalkan anonimitas untuk menghindari kemasyuran, anonimis jaman sekarang berusaha untuk menghindari umpatan dan tanggung jawab.

 yahh….kita terima saja semua kelemahan generasi kita dengan lapang dada

About sisusilo

I was born after we celebrate youngman promise about their commitment to this country

3 responses to “Kata Tak Bertuan”

  1. ramsKid says :

    gila..
    tulisannya bombastic!

  2. antonrifco says :

    iya lah….

    tapi jangan buat yg bombastic kalo untuk tugas kuliah

    ntar dicoret2 ama dosen kaw

  3. blesafho says :

    ngejang aja ko

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: